Kecerdasan buatan bukan lagi suatu prospek yang jauh; itu terjalin ke dalam kehidupan sehari-hari semulus mesin pencari dulu. Mulai dari tugas praktis hingga aplikasi yang sangat pribadi—seperti saran penitipan anak dan pemeriksaan gejala kesehatan—alat AI diadopsi dengan kecepatan yang melampaui pengawasan peraturan dan kepercayaan publik. Pertanyaannya bukanlah apakah AI akan membentuk kembali masyarakat, namun bagaimana dan apakah perkembangannya berjalan secara bertanggung jawab.
Keberadaan AI dalam Kehidupan Modern
Kecepatan integrasi AI sungguh luar biasa. Banyak orang melaporkan penggunaan alat AI beberapa kali sehari, seringkali tanpa disadari. Salah satu pendiri anthropic Daniela Amodei menceritakan bahwa chatbot perusahaannya, Claude, bahkan membantu melatih putranya menggunakan toilet, sementara sutradara film Jon M. Chu mengaku menggunakan LLM untuk mendapatkan nasihat kesehatan yang cepat, meskipun mengakui risikonya. OpenAI mencatat “ratusan juta” sudah mengandalkan ChatGPT untuk informasi kesehatan dan kebugaran setiap minggunya.
Namun, tidak semua orang menerima tren ini. Beberapa orang, seperti mahasiswa UC Berkeley, Sienna Villalobos, menolak pengaruh AI, dan percaya bahwa opini pribadi tidak boleh dilimpahkan ke algoritma. Sudut pandang ini tampaknya semakin jarang terjadi, karena Pew Research menemukan bahwa dua pertiga remaja AS kini menggunakan chatbot secara rutin. Kenyataannya adalah AI sudah menyebar luas, disadari atau tidak oleh pengguna, terutama dengan integrasinya ke dalam platform pencarian seperti Google Gemini.
Kekosongan Peraturan dan Masalah Etis
Penyebaran AI yang cepat terjadi di lingkungan yang sebagian besar tidak diatur, sehingga perusahaan harus melakukan pengawasan sendiri. Para ahli menekankan perlunya pengujian keselamatan yang ketat sebelum peluncuran, seperti uji tabrak pada mobil. Amodei dari Anthropic berpendapat bahwa pengembang harus bertanya, “Seberapa yakin kami telah melakukan cukup banyak pengujian keamanan pada model ini?” dan “Apakah ini sesuatu yang saya rasa nyaman untuk diberikan kepada anak saya sendiri?”
Namun, kepercayaan masih rendah. Survei YouGov mengungkapkan bahwa hanya 5% orang dewasa AS yang “sangat mempercayai AI”, sementara 41% tidak percaya, angka ini menurun dibandingkan tahun 2023. Tuntutan hukum tingkat tinggi yang menuduh kerugian yang disebabkan oleh AI semakin mengikis kepercayaan masyarakat. Seperti yang ditekankan oleh presiden Jaringan Omidyar, Michele Jawando, “Siapa yang dirugikan, dan siapa yang dirugikan? Jika Anda tidak tahu jawabannya, Anda tidak punya cukup banyak orang di ruangan itu.”
Gangguan Ekonomi dan Ketakutan Pasar Tenaga Kerja
Selain pertimbangan etis, AI juga menimbulkan permasalahan ekonomi yang signifikan. Penelitian Universitas Stanford menunjukkan menurunnya peluang kerja bagi kaum muda, dan perusahaan teknologi menyebut AI sebagai pembenaran untuk restrukturisasi tenaga kerja. CEO Circle Jeremy Allaire menyoroti risiko yang lebih luas: “Ada banyak pertanyaan besar mengenai hal tersebut dan risiko besar seputar hal tersebut, dan sepertinya tidak ada seorang pun yang memiliki jawaban yang tepat.”
Ketakutan ini juga dirasakan oleh para siswa yang khawatir bidang pilihan mereka akan menjadi usang. Terlepas dari kekhawatiran ini, kegunaan AI saat ini tidak dapat disangkal. Mulai dari mengajarkan literasi AI di Peru hingga meningkatkan penulisan kreatif, pengguna menemukan penerapan praktis bahkan ketika mereka berjuang dengan implikasi jangka panjangnya.
Jalan ke Depan: Menyeimbangkan Inovasi dengan Tanggung Jawab
Masa depan AI masih belum pasti. Meskipun beberapa pihak, seperti CEO Cloudflare Matthew Prince, tetap optimis, ada pula yang mengakui adanya potensi kerugian. Kuncinya terletak pada pendekatan proaktif: pengujian yang ketat, pengawasan yang transparan, dan kemauan untuk memprioritaskan pertimbangan etis dibandingkan keuntungan finansial jangka pendek. Pertanyaannya bukanlah apakah AI akan mengubah dunia—yang sudah terjadi—tetapi apakah kita dapat membentuk perkembangannya dengan cara yang bermanfaat bagi umat manusia, dan bukannya memperburuk kesenjangan dan risiko yang ada.




















