Seminggu terakhir ini terjadi peningkatan dramatis dalam penjangkauan federal, yang ditandai dengan penegakan ICE yang agresif di Minnesota, kebijakan intervensionis terhadap Venezuela, dan pengabaian terang-terangan terhadap transparansi dan standar hukum. Peristiwa-peristiwa tersebut tidak terjadi secara terisolasi; hal ini mewakili pergeseran ke arah taktik yang semakin otoriter di bawah pemerintahan saat ini.

Operasi ICE di Minnesota: Negara Bagian yang Dikepung?

Pejabat Minnesota telah mengajukan gugatan untuk menghentikan apa yang mereka gambarkan sebagai “invasi” terhadap agen Imigrasi dan Bea Cukai. Operasi tersebut, yang dilakukan tanpa pemberitahuan sebelumnya, telah menimbulkan kekhawatiran mengenai tindakan federal yang berlebihan dan militerisasi penegakan hukum setempat. Yang meresahkan, catatan menunjukkan bahwa lebih dari 30 kendaraan ICE di Kota Kembar beroperasi tanpa lampu darurat dan sirene, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang keselamatan dan kepatuhan.

Tindakan ini bukanlah suatu anomali. Pemerintah telah mengisyaratkan niat yang lebih luas untuk meningkatkan operasi ICE secara nasional, dengan California dan New York diposisikan sebagai “berikutnya”. Situasi ini menggarisbawahi tren yang berkembang: pemerintah federal mengabaikan otoritas negara bagian dan lokal dalam menerapkan kebijakan penegakan hukum yang agresif.

Venezuela: Perampasan Sumber Daya dengan Kedok Perubahan Rezim

Pemerintah telah secara terbuka menyatakan niatnya untuk mengendalikan pemerintahan Venezuela sampai terjadi “transisi yang bijaksana”. Motif yang mendasarinya tampaknya adalah akses terhadap cadangan minyak negara yang sangat besar. Meskipun para pejabat menganggap hal ini sebagai upaya kemanusiaan, para kritikus menunjuk pada pola historis intervensi AS di Amerika Latin yang didorong oleh kepentingan ekonomi.

Sementara itu, para penganut teori konspirasi menghubungkan situasi Venezuela dengan klaim yang tidak berdasar mengenai pemilu 2020, sehingga semakin memperkeruh narasi dan mengeksploitasi perpecahan yang ada. Kenyataannya adalah informasi intelijen mengenai dugaan ancaman terhadap Venezuela, seperti geng “Tren de Aragua”, masih minim, dengan catatan yang menunjukkan aktivitas kriminal tingkat rendah yang terfragmentasi dan bukannya rencana teroris yang terkoordinasi.

Keadilan Selektif dan Erosi Kepercayaan Masyarakat

Kasus agen ICE yang menembak Renee Good menunjukkan sebuah tren yang meresahkan: penegakan aturan secara selektif dan pengabaian terhadap akuntabilitas. Meskipun jelas ada pelanggaran terhadap persyaratan layanan GoFundMe, dana pembelaan hukum untuk agen tersebut tetap aktif, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang perlakuan istimewa.

Pola ini meluas hingga manipulasi narasi. Penembakan di Minneapolis versi pemerintah bertentangan langsung dengan rekaman video, dengan media sayap kanan memperkuat laporan yang menyimpang. Peralihan ke arah mengandalkan pemberi pengaruh partisan dibandingkan reporter arus utama—sebuah taktik yang mengingatkan kita pada era Perang Irak—semakin mengikis kepercayaan publik terhadap sumber-sumber resmi.

Masa Depan Deportasi Massal

Pemerintahan saat ini telah memperjelas bahwa deportasi massal akan semakin meningkat. Meskipun milisi sayap kanan pada awalnya mengharapkan peran penting dalam penegakan hukum, fokusnya kini beralih ke militerisasi lembaga penegak hukum yang ada. Implikasinya terhadap kebebasan sipil dan proses hukum sangat parah.

Peristiwa yang terjadi di Minnesota, Venezuela, dan negara lain menunjukkan pola yang jelas: terkikisnya perlindungan hukum, pengutamaan kepentingan ekonomi dibandingkan hak asasi manusia, dan manipulasi wacana publik yang disengaja.

Pergeseran ini bukan sekedar perubahan kebijakan; hal ini mencerminkan perubahan mendasar dalam hubungan antara pemerintah federal dan warga negaranya, serta dengan negara-negara asing. Beberapa bulan ke depan akan menentukan apakah tren ini akan menjadi kondisi normal baru atau menghadapi hambatan yang berarti.