Di era yang didominasi oleh umpan algoritmik dan periklanan berbasis data, telah muncul pemain baru yang melanggar hampir semua aturan media sosial modern. UpScrolled, sebuah platform yang didirikan oleh Issam Hijazi, telah berkembang pesat dari proyek solo menjadi komunitas dengan lebih dari 5 juta pengguna.
Berbeda dengan raksasa Silicon Valley, UpScrolled dibangun di atas landasan ideologi eksplisit dan penolakan terhadap “ekonomi perhatian”.
Berangkat dari Norma Teknologi Besar
UpScrolled tidak mencoba menciptakan kembali antarmuka pengguna; sebaliknya, ini meniru keakraban Instagram atau X untuk menurunkan hambatan masuk. Namun, filosofi yang mendasarinya sangat berbeda:
- Umpan Kronologis: Platform ini menghindari algoritme berbasis AI yang dirancang untuk memaksimalkan interaksi. Sebaliknya, pengguna melihat konten sesuai urutan postingannya, kembali ke model yang ada sebelum feed “adiktif” menjadi standar industri.
- Privasi Data: Hijazi telah berjanji untuk melindungi data pengguna agar tidak dijual ke perusahaan pemasaran atau perusahaan komersial.
- Netralitas Konten: Platform ini lahir sebagai respons terhadap tuduhan “pelarangan bayangan” dan sensor, khususnya terkait suara-suara pro-Palestina. Hijazi telah berjanji bahwa platform tersebut tidak akan menyembunyikan konten secara diam-diam, asalkan mematuhi pedoman komunitas.
Motivasi: Dari Teknologi Korporat hingga Misi Sosial
Issam Hijazi bukanlah tipikal pengusaha Silicon Valley. Dengan latar belakang raksasa industri seperti IBM dan Oracle, keputusannya untuk meninggalkan dunia korporat didorong oleh masalah etika.
Hijazi menggambarkan titik balik pribadi yang dipicu oleh konflik di Gaza. Sebagai warga Palestina, ia merasakan keterlibatan yang mendalam dalam bekerja di perusahaan teknologi yang menyediakan infrastruktur dan kemampuan pengawasan ke berbagai negara. Dia melihat adanya kekosongan di pasar: orang ingin mengekspresikan diri mereka tanpa takut akan penindasan algoritmik, namun tidak ada alternatif yang etis atau dapat diandalkan.
“Saya merasa sudah waktunya untuk memberikan kembali kendali kepada masyarakat mengenai bagaimana mereka ingin mengekspresikan diri mereka,” kata Hijazi dalam wawancaranya.
“Efek TikTok” dan Pertumbuhan Eksplosif
Lintasan platform ini bergeser dari kenaikan stabil ke lonjakan vertikal pada awal tahun 2025. Menyusul berita mengenai restrukturisasi operasi TikTok di AS, UpScrolled melihat gelombang besar pengguna yang mencari alternatif.
Apa yang dimulai sebagai “pertunjukan satu orang” yang mengelola 150.000 pengguna dengan cepat berkembang menjadi fenomena global. Pada satu titik, aplikasi ini masuk ke dalam 10 aplikasi yang paling banyak diunduh di Australia dan Inggris. Ekspansi yang pesat ini memaksa Hijazi untuk beralih dari pengembang tunggal menjadi CEO yang mengelola tim beranggotakan 25 orang, yang mencakup bidang teknik, moderasi konten, dan strategi global.
Tantangan: Moderasi dan Monetisasi
Pertumbuhan tidak terjadi tanpa adanya kesulitan pertumbuhan yang signifikan. Seiring dengan berkembangnya basis pengguna, kompleksitas pengelolaannya juga meningkat:
- Moderasi Konten: Platform ini menghadapi pengawasan ketat dari organisasi seperti Liga Anti-Pencemaran Nama Baik, yang menuduh UpScrolled tidak berbuat cukup untuk memerangi konten antisemit dan ekstremis.
- Aktor Jahat: Dengan jutaan pengguna, muncul ancaman serangan teknis dan “aktor jahat” yang berupaya memanipulasi reputasi platform melalui misinformasi yang terkoordinasi.
- Pendapatan Berkelanjutan: UpScrolled saat ini beroperasi dengan dukungan dari angel investor dan VC yang selaras dengan nilai. Untuk menjadi mandiri, Hijazi menjajaki beberapa model:
- Layanan berlangganan untuk pengguna dan organisasi terverifikasi.
- Komisi Marketplace untuk usaha kecil.
- Ekonomi kreator di mana pengguna membayar untuk berlangganan produsen konten tertentu.
- Iklan etis yang mematuhi janji privasi platform.
Kesimpulan
UpScrolled mewakili tren “media sosial ideologis” yang sedang berkembang—platform yang dibangun tidak hanya untuk koneksi, namun sebagai protes terhadap persepsi bias dan praktik pengumpulan data oleh Big Tech. Tantangan terbesar yang dihadapi platform ini adalah apakah mereka dapat mempertahankan nilai-nilai intinya sambil melakukan peningkatan untuk memenuhi permintaan jutaan orang.




















