Enam anggota parlemen dari Partai Demokrat menuntut jawaban dari kepala intelijen Amerika mengenai apakah penggunaan Virtual Private Network (VPN) secara tidak sengaja menghilangkan perlindungan privasi konstitusional warga Amerika. Kekhawatirannya: karena VPN menutupi lokasi sebenarnya dari pengguna, badan intelijen mungkin memperlakukan pengguna tersebut sebagai orang asing, sehingga membuat mereka terkena pengawasan tanpa jaminan.

Paradoks Alat Privasi

Situasinya sungguh ironis. Badan federal, termasuk FBI, NSA, dan FTC, sebenarnya telah merekomendasikan VPN untuk meningkatkan privasi online. Namun, mengikuti saran ini secara tidak sengaja dapat mengabaikan perlindungan hukum yang diandalkan oleh masyarakat Amerika. Hal ini berasal dari cara badan intelijen mengkategorikan lalu lintas internet – yang asal usulnya sering kali dianggap asing. Jutaan orang menggunakan VPN setiap hari untuk mengakses konten yang dibatasi secara geografis atau mengamankan Wi-Fi publik, tanpa menyadari bahwa mereka mungkin mengaburkan batas untuk tujuan pengawasan.

Cara Kerja Pengawasan: Bagian 702 dan EO 12333

Perdebatan berpusat pada dua otoritas utama: Pasal 702 Undang-Undang Pengawasan Intelijen Asing (FISA) dan Perintah Eksekutif 12333. Pasal 702 mengizinkan pemerintah untuk menyadap komunikasi asing, namun juga menyapu sejumlah besar data Amerika, yang dapat digeledah FBI tanpa surat perintah. Program ini akan berakhir bulan depan, sehingga memicu perdebatan sengit di Kongres mengenai reformasi privasi.

EO 12333, sebuah arahan era Reagan, memungkinkan pengawasan yang lebih luas terhadap orang asing dengan pengawasan minimal, yang dijalankan berdasarkan pedoman yang hanya disetujui oleh Jaksa Agung AS. Di bawah kedua otoritas tersebut, asumsi yang sama berlaku: jika lokasinya tidak diketahui, orang tersebut dianggap bukan orang Amerika. Artinya, orang Amerika yang menggunakan server VPN di Amsterdam terlihat tidak bisa dibedakan dari warga negara Belanda hingga badan intelijen.

Asumsi Default: Orang Non-AS

Pedoman intelijen yang tidak diklasifikasikan mengkonfirmasi hal ini. NSA dan Departemen Pertahanan memperlakukan lokasi yang tidak diketahui sebagai milik orang non-AS secara default. VPN komersial merutekan lalu lintas melalui server di seluruh dunia, menggabungkan pengguna dari berbagai negara. Sebuah server tunggal, bahkan di AS, dapat membawa komunikasi asing, sehingga berpotensi menjadi target pengawasan.

Pertanyaan Kunci: Apa yang Dapat Dilakukan Orang Amerika?

Surat anggota parlemen, yang ditandatangani oleh Senator Ron Wyden, Elizabeth Warren, dan lainnya, tidak menyatakan bahwa lalu lintas VPN saat ini dikumpulkan di bawah otoritas tersebut. Sebaliknya, mereka meminta Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard untuk mengklarifikasi secara terbuka dampak penggunaan VPN terhadap hak privasi orang Amerika. Surat tersebut menunjukkan bahwa miliaran dolar dihabiskan setiap tahunnya untuk VPN, yang sering kali dipasarkan sebagai alat privasi, namun konsumen tidak menerima panduan untuk melindungi hak-hak mereka. Anggota parlemen mendesak adanya kejelasan: dapatkah warga Amerika memastikan bahwa mereka menerima perlindungan konstitusional yang layak mereka dapatkan saat menggunakan layanan ini?

Pertanyaan ini penting karena, tanpa jawaban yang jelas, orang Amerika mungkin secara tidak sadar kehilangan hak privasinya demi mendapatkan rasa aman yang salah. Perdebatan yang sedang berlangsung mengenai FISA Pasal 702 menggarisbawahi urgensinya, karena para anggota parlemen berselisih mengenai apakah pembaruan harus disertai dengan perlindungan yang lebih kuat terhadap pengawasan yang tidak beralasan.

Pada akhirnya, permasalahan intinya sederhana saja: Warga Amerika berhak mengetahui apakah alat yang mereka gunakan untuk melindungi privasi secara tidak sengaja membuat mereka rentan terhadap tindakan pemerintah yang berlebihan.